| Peningkatan Ruas Jalan Desa Pinogu Segera Direalisasikan | | |
| Friday, 24 September 2004 | |
| Masyarakat di wilayah Kecamatan Suwawa, khususnya di Desa Pinogu boleh saja berbangga hati dengan adanya peningkatan ruas jalan yang mengbungkan desa tersebut dengan desa-desa lain disekitarnya. Dengan keluarnya izin prinsip dari Menteri Kehutanan RI tentang peningkatan ruas jalan tersebut, dalam waktu dekat sudah bisa direalisasikan. Namun demikian ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi berupa kajian-kajian terpadu dampak lingkungan. Hasil kajian tim terpadu yang dilakukan para pakar lingkungan dari Universitas Gorontalo, itu, Kamis. (23/9) dilokakaryakan, dibuka langsung oleh Sekertaris daerah Provinsi Gorontalo Drs H Mansur J Detuage MM. Kepala Balitbang Pedalda Provinsi Gorontalo Prof DR Winarni Monoarfa pada kesempatan tersebut mengungkapkan bahwa ruas jalan tersebut merupakan dambaan masyarakat setempat sejak dulu untuk memperoleh akses jalan keluar terutama pemasaran hasil-hasil pertanian dari masyarakat setempat dan jasa dalam rangka peningkatan kesejahteraan hidup mereka. Namun kendalanya, ruas jalan tersebut berada di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone satu-satunya taman nasional di Indonesia yang memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh provinsi lain, sehingganya banyak hal yang perlu diperhatikan. Oleh karenanya menurut Winarni, sebelum jalan tersebut dikerjakan dilakukan dulu berbagai kajian-kajian menyangkut dampak lingkungan dan dampak socialnya akibat dari pembukaan jalan tersebut. Ditempat yang sama Sekda Drs H Mansur J Detuage MM dalam sambutannya menegaskan masalah-masalah lingkungan seperti degradasi sumber daya alam, pencemaran lingkungan, bencana longsor dan banjir serta penurunan keaneka ragaman jenis hayati perlu diperhatikan. Hal senada juga dikatakan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Departemen Kehutanan RI Widodo Sukohadi Ramono, mengungkapkan bahwa TNBNW sejak pengresmiannya 13 tahun lalu telah mengalami tantangan dan kerusakan yang diakibatkan oleh perambahan, perburuan liar dan penembangan liar. Sementara itu ketua tim pengkaji Baharudin Nurkin PHd menjelaskan hasil kajian tim terhadap peningkatan jalan tersebut dimana jalan yang sekarang ini belum layak untuk lalui sehingga perlu ditingkatkan dimana secara teknis sangat ramah lingkungan. Untuk mengantisipasi dampak akibat dari pembukaan jalan tersebut, tim terpadu mengusulkan agar dibuatkan pos-pos Jagawana di beberapa titik, juga portal yang membatasi tonase yang masuk. Soal kegiatan pengambilan aren oleh warga setempat menurutnya tidak mempengaruhi kerusakan hutan. Bahrudin berharap tanggungjawab terhadap pelestarian hutan tersebut, tidak hanya pemerintah tapi juga masyarakat. |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar